Laut malam itu tak biasa. Langit mendung, angin membawa kabar buruk, dan ombak menghantam lambung kapal. Di KMP Tunu Pratama Jaya, Wahyudi duduk di belakang kemudi mobil travel-nya. Matanya mengawasi penumpangnya yang sembilan orang itu, sebagian tertidur, sebagian melamun. Tak satu pun dari mereka tahu, bahwa waktu mereka di atas laut akan berubah menjadi kisah yang tak terlupakan.
Teriakan pertama terdengar dari kejauhan.
“Kapal miring! Kapal miring!”
Jantung Wahyudi berdetak cepat. Ia menoleh keluar jendela mobil dan melihat lampu-lampu mulai bergoyang. Suasana berubah seketika. Penumpang menjerit. Beberapa berhamburan keluar mobil. Wahyudi tak menunggu lebih lama. Ia buka pintu, berlari ke tangga kapal—namun baru sampai anak tangga kedua, dunia mendadak condong. Kapal miring semakin tajam.
Tangga itu berubah menjadi jurang.
Ia terhempas ke dinding. Kepalanya membentur besi. Darah hangat menetes dari pelipis. Kakinya tersandung sesuatu. Segalanya berguncang. Listrik padam. Hanya suara air dan jeritan samar dari luar yang terdengar.
Ia tahu: kapal itu akan tenggelam.
Dengan tubuh gemetar, Wahyudi meraba dinding kapal. Ia terjebak. Di bawah. Dalam gelap. Tak tahu di mana atas dan bawah. Ia mencoba membuka pintu mobil lain, namun air mulai merembes masuk. Bau solar, plastik, dan besi bercampur dengan ketakutan yang menyesakkan dada.
Waktu terasa tak bergerak. Wahyudi hanya bisa mengandalkan napas yang makin pendek dan doa-doa yang mengalir dari bibirnya. Dalam kegelapan itu, ia mendengar tangisan. Entah dari penumpangnya, atau dirinya sendiri.
"Aku harus keluar… harus keluar…" desisnya, lirih.
Dengan sisa tenaga, ia merangkak menuju ruang yang tampak lebih tinggi. Tangannya menemukan sesuatu—besi tajam, mungkin bagian dari tiang yang runtuh. Luka baru di tangan tak ia hiraukan. Perlahan, ia dorong tubuhnya ke arah celah cahaya samar yang muncul di antara retakan kapal.
Ia muncul ke permukaan. Sendiri. Lelah. Dingin. Tubuhnya terapung bersama serpihan-serpihan kapal dan jeritan-jeritan tak utuh dari sekeliling. Ia melihat wajah seseorang—penumpangnya. Masih hidup. Lalu wajah lain. Enam dari sembilan penumpangnya berhasil menyusulnya ke laut.
Di tengah malam laut itu, mereka hanya berpegangan pada puing-puing dan pelampung yang mengambang entah dari mana. Berjam-jam mereka terapung, menggigil, menggantungkan hidup pada harapan yang makin tipis.
Saat akhirnya diselamatkan, Wahyudi tak bisa bicara. Tubuhnya gemetar. Kepalanya nyeri. Tapi ia hidup. Itu cukup. Untuk sekarang.
Adiknya, Lusi, memeluknya erat di posko evakuasi. Wajahnya pucat, tapi matanya basah penuh syukur.
“Mas... Mas pulang…”
Wahyudi memejamkan mata. Tapi setiap ia menutup mata, kegelapan kapal itu kembali. Suara air. Suara besi patah. Teriakan orang-orang. Ia tahu, ia belum benar-benar pulang. Sebagian jiwanya masih tertinggal di dasar laut. Bersama mereka yang tak sempat naik ke permukaan.
Laut menyimpan nama. Dan malam itu, ia nyaris menjadi salah satunya.
Diceritakan kembali oleh Pak Cik Prosmala Hadisaputra Alimin Prosmala Hadisaputra


