Senin, 27 November 2017

BEASISWA MORA S3 (LN) 2018-2019

Sahabat Baper (pem-Bawa Perubahan) 
Saya baru saja mendownload Pengumuman Beasiswa s3 Mora Luar Negeri 2018-2019 Kementerian Agama Republik Indonesia. 
Sila dibaca, mungkin ada yang berminat dan memenuhi syarat
Kunjungi Linknya di halaman terakhir.











Bisa cek di laman berikut ini

FATHANAH MINUS AMANAH = MUSIBAH

(Ini tulisan lama, tapi masih relevan, in sya Allah)
**********************************
Nama “Ahmad Fathanah” menjadi buah bibir khalayak, setelah kasus impor sapi ramai meyeruak. Pemberitaannya di media semakin membludak. Di TV, radio, koran, majalah dan internet namanya menjadi pergunjingan orang banyak. Reating “negatif”-nya di dunia maya menjadi makin menanjak.  Reputasi dan martabatnya pun kian hari kian terkoyak. Terlebih setelah aliran dana kepada sejumlah wanita dekatnya terkuak. Di antara mereka ada yang menerima ratusan juta fulus. Ada juga yang mendapatkan mobil mulus. Juga perhiasan, intan berlian dan aksesoris lain yang bagus-bagus. Tampang Fathanah dan teman-teman wanitanya menjadi incaran kamera awak media. Beritanya pun menjadi bukan sekedar berita biasa. Beritanya dikemas dengan beranekaragam tema dan model acara. Singkat kata, Ahmad Fathanah telah menjadi primadona media.
Di lain pihak, ketika Fathanah cs disibukkan oleh pertanyaan-pertanyaan penyidik KPK. Tidak sedikit di antara warga masyarakat yang melayangkan kata “sayang seribu sayang”, bahkan caci maki terucap tegang. Mereka menyayangkan sikap Fathanah yang telah mencedrai nama baik dirinya, keluarga,  kelompok dan agamanya. Mereka mencaci-maki kecerdasan (sifat fathanah) yang di milikinya, yang digunakannya untuk hal-hal yang tidak bermoral semacam korupsi, rasuah dan dugaan gratifitasi seks dan money loundry. Kecerdasan yang dinugerahi Tuhan kepadanya, benar-benar telah mengantarkan dirinya kepada suatu masa kehinaan dan kehancuran dalam hidupnya. Rasa dingin di balik jeruji besi sudah mengancam. Penyitaan dan pemiskinan dari KPK menjadi sesuatu yang menakutkan dan mencekam. Masa depan pun kian menunjukkan suram. Lembaran kehidupan yang dulu terang kini berangsur-angsur buram. Semuanya hanya karena sifat fathanah, yang tidak dibarengi oleh sifat amanah. Sehingga dapat dirumuskan; Sifat Fathanah – Sifat Amanah = Musibah atau secara gamblang kerangka pikir tersebut senada dengan; Cerdas – Jujur = Hancur.
Dari penggalan kisah Ahmad Fathanah tersebut, rumus sederhana di atas muncul. Mungkin inilah hikmah yang dapat dijadikan ibrah atau pelajaran bagi kita semua, agar senantiasa mensinergikan antara sifat fathanah dan amanah. Pembaca yang terhormat, marilah kita tinggalkan kisah runyam Ahmad Fathanah dan bidadari-bidadari yang mengitarinya, dan marilah kita berdikusi tentang rumus sederhana diatas.
Pembaca – rahimakumullah -, sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa sifat fathanah merupakan salah satu dari empat sifat tauladan rasululullah. Fathanah dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan kata cerdas atau pintar. Penyandingan sifat inilah yang mungkin banyak menggugah para cendekia, pemikir dan pengkaji tema-tema keislaman untuk mereinterpretasi terhadap “ke-ummi-an” rasulullah. Dalam artian, selama ini rasulullah selalu diidentikkan dengan sifat ummi, yang ditafsirkan oleh sejumlah ulama’ sebagai orang yang tidak cakap membaca dan menulis (laa yaqra’u wa laa yaktubu). Kondisi ini menjadi tidak sinkron, manakala satu pihak mengatakan bahwa rasulullah memiliki sifat cerdas, dan satu pihak mengatakan buta huruf.
Masing-masing ulama’ memiliki alasan masing-masing. Yang menyatakan rasulullah cerdas karena memang dalam sejarahnya, rasullah terkenal sebagai manusia yang sempurna (insaanun kaamilun). Beliau seorang niagawan yang sukses dalam perniagaan. Dan sangat mustahil jika itu semua diraih tanpa sifat fathanah. Rasulullah adalah seorang nabi yang berdakwah tidak hanya melalui medium lisan semata, tapi juga via surat menyurat (korepondensi) seperti surat yang dibuatnya kepada kaesar Heraclius dan raja lainnya. Jadi, sangat mustahil jika rasulullah tidak bisa membaca dan menulis dan masih banyak fakta sejarah yang tidak dapat dibantah kebenarannya, mengenai sifat fathanah rasulullah. Bagi yang mengatakan bahwa rasulullah adalah ummi, tiada lain maksud para sahabat, tabi’in dan ulama’ adalah untuk melindungi rasulullah dari fitnah orang-orang yang mencari-cari titik kelemahan al-Qur’an.
Sifat fathanah yang disandang oleh rasulullah, sesungguhnya telah memberikan ruang dan gerak yang luas bagi rasulullah dalam menyampaikan risalah yang diembannya, sehingga Islam dapat disampaikannya dengan mudah, baik dan benar, serta dapat diterima oleh masyarakat Mekkah pada saat itu. Dengan sifat tersebut, rasulullah mampu menyampaikan kepada umatnya berupa ayat-ayat al-Qur’an dan wahyu lainnya yang diturunkan oleh Allah kepadanya. Tidak hanya itu, rasulullah juga amat cerdas dalam membaca kondisi sosial, budaya, kepercayaan, kebutuhan dan ragam hidup masyarakat jahiliyah saat itu. Kecerdasan yang dianugerahi tersebut tidak lantas membuatnya berangan-angan untuk mengeruk keuntungan berupa harta, tahta dan wanita dengan melakukan penipuan, pembohongan dan pembodohan public terhadap masyarakat Mekkah. Sekalipun Beliau pernah ditawarkan bahkan disuap oleh kafir Qurays untuk “pansiun dini” menjadi seorang nabi dan rasul, dengan iming-iming kekuasaan, jabatan, harta dan berbagai layanan kepuasaan. Kecerdasan yang dimilikinya sungguh dijadikannya sebagai sesutu yang membawa maslahat bagi Islam dan semesta alam.
Kemampuan rasulullah dalam mengendalikan sifat fathanahnya, tidak lain karena Ia juga mengiringinya dengan sifat amanah, jujur dan enggan berkhianat. Sudah menjadi rahasia publik, betapa banyak orang yang pintar, cerdas, dan memiliki sifat fathanah, namun tidak lain yang terjadi hanya ketidakjujuran, kemunafikan, pembodohan dan penyesatan. Ilmu yang dimiliki tidak lagi menjadi sesuatu yang melindungi diri dari segala bentuk sikap dan perilaku amoral. Ilmu yang dikuasai seakan-akan menjadi alat pengeruk kepuasan duniawi semata dan mencampakkan sifat amanah. Siapa yang tidak tahu bahwa para koruptor di negeri ini adalah orang-orang yang terdidik, orang yang cerdas dan mengerti hukum, tidak hanya itu mereka juga paham soal agama.
Oleh karena itu sifat amanah memberikan kontribusi yang besar dalam mengendalikan sifat fathanah seseorang. Amanah tidak lain merupakan monitor yang mengendalikan kepintaran manusia, agar kecerdikan yang dimilikinya tidak disalahgunakan dalam mengemban tugas sebagai pemimpin, karyawan, pengusaha dan intinya khalifah di muka bumi ini. Akhirnya, semoga kita selalu dimudahkan dalam mengemban tugas yang telah diamanatkan kepada kita. Wallahu a’lam bisshawaab.

Prosmala Hadisaputra

Pengajar di Ponpes Selaparang Kediri
Lombok Barat

Awardee LPDP-PK-89
Ph.D Student in Islamic Studies
University of Malaya 
Kuala Lumpur-Malaysia

Sabtu, 25 November 2017

BILAH BAMBU PAK SUKAR


Pak Sukar, begitulah biasa ia dipanggil. Atau kadang-kadang dipanggil dengan nama lengkapnya, Pak Sukardi. Dia guru pertamaku saat aku masuk sekolah di SD. Perawakannya tinggi, tak terlalu gemuk, juga tak terlalu kurus. Satu kata, “ideal”. Kulitnya putih bersih. Kumisnya dicukur rapi. Jenggotnya dicukur mulus. Tak bersisa. Rambutnya yang lurus disisirnya ke kanan. Rambutnya hitam mengkilat.  “Sepertinya, rambut pak guru baru habis di-tanco atau di-brisk.”  Gumamku dalam hati. Jika boleh kuberi tahu. Tanco dan Brisk, adalah dua merk minyak rambut yang ngtrend saat itu. Ya tahun itu,  tahun 1990-an.

Aku juga masih ingat baju safari biru tuanya. Baju safari berlengan pendek itu. Baju itu memiliki tiga saku. Satu di atas, tepat di dada sebelah kirinya, dan dua saku lainnya di bagian bawah kiri dan kanan. Model bagian belakang baju safarinya terbelah. Jika ia mengendarai motor, belahan belakangnya berkibar-kibar diterpa angin. Baju safari yang indah. Baju safari pelambang kewibawaan. Aku ingin jadi guru.
Tiap hari ia akan datang ke sekolah mengendarai motor tuanya. Seingatku motor itu berwarna merah tua. Motornya kurus kering. Bodynya full besi. Tak seperti motor era sekarang. Full plastik. Asapnya mengepul tebal, macam asap poging nyamuk demam berdarah.

Ada satu aksesoris penting milik Pak sukar. Aksesoris yang tidak akan pernah kulupakan. Aksesoris yang tidak lepas dari dirinya. Kau tahu kawan, aksesoris itu adalah bilah bambu.  Bila bilah bambu sudah habis remuk, Pak Sukar akan menjadikan penggaris panjang coklat, lagi berangka itu, sebagai aksesoris selanjutnya. Bila kedunya sudah remuk atau patah, Pak Sukar akan menyuruh kami, semua muridnya, untuk membawa bilah bambu. Tidak hanya satu, namun 2 hingga 3 bilah. Bilah bambu selalu kukenang. Penggaris coklat pun tak akan pernah lekang. 

Kau tahu kawan! Bilah bambu dan pengaris coklat itu tidak remuk dihentak-hentak di papan tulis. Justru keduanya remuk di atas punggung kami. Itu bila kami tak bisa-bisa membaca. itu bila kami tak pandai-pandai merangkai huruf. Itu bila bibir Pak Guru sudah berbusa mengajar kami. Semua kawan-kawan sekelasku pernah digebuk Pak Sukar. Tak terkecuali Aku.

Kini aku berdiri di altar University of Malaya. Salah satu universitas berkelas internasional. Peringkat 114 terbaik dunia. Kupandang diriku sendiri. Ada rindu merasuk indah ke relung hatiku. Aku rindu gebukan Pak Sukar. Gebukan yang menghangatkan. Gebukan yang membangkitkan.  Gebukan yang memantik semangat. Bilah bambu yang bertuah. Bilah pengunggah berkah. Aku rindu bilah bambu dan penggaris coklat itu. Aku rindu gaya sisirannya. Aku rindu semua tentangnya.
***
Saat duduk di kelas satu SD, Pak Sukar meminta kami, satu persatu, untuk mengeja kata, yang ia tulis di papan. Seperti yang kubilang kawan. Jika muridnya tak bisa mengeja, Pak Sukar akan memukul punggung kami dengan bilah bambu. Kelet, Kandik, Jeki, Jaen, Peri, Patah Polak, semuanya pernah dipukul. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Aku pun demikian. 

Ada satu masa, entah apa yang membuat saya begitu cerdik. Bukan cerdas kawan. Ini layaknya akal si Kancil. “Aku boleh dipukul setiap salah mengeja kata. Tapi aku tidak boleh merasa sakit”, pikirku. Ide itu muncul spontan saja di pikiranku. Ah, malam itu terasa begitu panjang sekali. Aku tak sabar dengan datangnya pagi. Aku ingin bertemu Pak Sukar. Aku ingin buktikan ide cerdikku, sekali ini.

Pagi itu aku bangun cepat. Seperti biasa, aku dan kawan-kawan biasa mandi di kolam Masjid Atas. Bila airnya mengering kami biasanya mandi di sumur pompa air di Masjid Atas. Masjid Atas adalah Masjid tua di kampung kami. Masjid lambang perlawanan terhadap Islam Waktu Telu di kampungku.

Aku bergegas berangkat ke sekolah. Kami tidak biasa sarapan di rumah. Biasanya kami sarapan di jalan. Kami buat ’tekotan’, semacam mangkok yang kami bentuk dari daun pisang. Kami tiba di sekolah beratap seng berkarat itu. Entah berapa tahun umur seng renta itu. Tak pernah diganti-ganti. Bila musim hujan, air akan menggenang di kelas. Atapnya bocor. Air juga merembes membasahi dinding kelas.  Catnya mulai memudar. Bahkan sudah ada yang berlumut.  Sekolah kami juga  tak memiliki dinding pembatas. Apalagi pintu gerbang. Kami sering jumpai kotoran binatang di teras, depan kelas kami. Anak-anak kampung di sekitar sekolah kami pun, sering berak di lapangan sekolah.Kini sekolah itu sudah nampak lebih baik.
***
Lonceng berbunyi. Kami masuk kelas. Jam pertama adalah belajar membaca. Yes, Pak Sukar sudah datang. Hatiku gembira. Pak Sukar masuk kelas dan mulai mengajar kami. Satu persatu kemampuan kami dijajaki. Kandik, Lehel, Patah Polak, Isyah Esot, Erlan Melong, Jaen, Celuneng, Ceroh, Jaen, Kelet, semuanya tak lepas dari bilah bambu. Mereka meringis. Sisi bibir kiri mereka terangkat spontan. Meski meringis, tak ada yang menangis. Tidak ada yang melapor ke orang tua. Bila mereka melapor, orang tua mereka memiliki bilah bambu lebih besar dari Pak Sukar.

Tibalah giliranku. Aku disuruh mengeja. Entahla, aku tak ingat kata yang ditulis Pak Sukar waktu itu. Yang Aku ingat “aku tak bisa mengeja”. Setiap kata yang ditulis Pak Sukar tak dapat kukenali. Huruf-hurufnya bagai bilah bambu semua. Mulutku kelu. Aku tetap tenang. Saatnya menjalankan ideku. Plak!. . Bilah bambu mendarat aman di punggungku. Aku nyengir, macam senyum kuda. Berkali-kali pundakku dipukul. Aku nyengir. Aku tak meringis sakit. Aku seakan merasa punya ilmu kebal. Kau tahu kawan, kenapa aku tak meringis? Sebab aku memakai tas ransel. Di dalamnya kuisi buku-buku. Tapi tas ransel itu hanya bertahan sebentar, sebab aku pandai membaca. Itu karena gebukan Pak Sukar.

Pak Sukar amat berjasa. Ia menjadikan kami melek literasi. Tidak hanya itu, ia sering menjaga kami agar tidak kabur bila “Tukang Suntik” itu datang. Sebab Aku pernah merusak kawat jendela kelas, karena takut disuntik. Itu dulu. Apakah Pak Sukar marah? Tidak. Bila kami berkelahi, apakah ia menggunakan bilah bambu mendamaikan kami? Tidak. Bila kami pukul-pukul meja, apakah ia menjadi bringas? Tidak. Sekarang kau tahu kawan, kapan bilah bambu ia gunakan. 

Bilah bambu itu itu telah menjadi tangga. Ia menghantarkanku menuju altar megah ini. Terima kasih Pak Guru!, tanpamu apa jadinya aku. 


Kuala Lumpur, 25 Novempber 2017.
Prosmala Hadisaputra
Ph.D Student in Islamic Education
University of Malaya-Kuala Lumpur
Malaysia