Video
ini didedikasikan buat guru-guru saya di SDN 11 Kuripan (SDN 4 Kuripan),
MTs./MA. Selaparang Kediri, Ma'ad Darul Qur'an Wal Hadits Al-Majidiyyah
al-Syafi'iyyah NW Anjani, Fak Dakwah dan Komunikasi dan Pascasarjana
Universitas Negeri Islam Negeri Mataram, Islamic Education Departement -
Academy of Islamic Studies University of Malaya, dan semua guru yang pernah
mengajarkan saya satu huruf pun, SAYA ADALAH BUDAKMU, sungguh TANPAMU apa
jadinya aku.
Kamis, 23 November 2017
SEMANGAT KEBANGSAAN NAHDATUL WATHAN
Sebagai organisasi terbesar di Bumi
Seribu Masjid ini, Nahdlatul Wathan atau yang lebih dikenal dengan singkatan NW,
telah eksis sebelum kemerdekaan bangsa ini. 78 tahun usianya kini, yang dirayakan
dalam acara Hultah NWDI, merupakan bilangan usia yang masuk katagori istimewa
lagi terpuji. Walau usianya sudah demikian tua, tidak lantas ia renta, tak
berenergi. Bahkan dengan usia tuanya ini, semangat berkarya untuk bangsa
menjadi kian kuat terpatri. Segudang pengalaman yang telah lalu menjadi energi
dan motivasi, untuk berkompetesi menuju kebaikan duniawi dan ukhrawi. Karena “Nahdlatul
Wathan fil Khair, Nahdlatul Wathan fastabiqul khairat” – yang berarti, NW
dalam kebaikan dan NW berlomba-lomba menuju kebaikan.
Secara historis, NW resmi menjadi
ormas yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan dakwah pada tahun 1953. Namun
duoembrionya yaitu dua lembaga pendidikan NWDI (Nahdlatul Wathan Diniyah
Islamiyah) dan NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah) telah lama eksis
sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan di tahun 1945. NWDI sebagai
lembaga pendidikan yang diperuntukkan khusus untuk kaum laki-laki telah eksis
sejak tahun 1937. Sedangkan NBDI sebagai lembaga pendidikan yang disiapkan
khusus untuk perempuan resmi didirikan pada tahun 1943.
Penamaan NWDI, NBDI dan NW oleh
pendirinya Maulana Syeikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, bukanlah tanpa
pertimbangan dan istikharah yang matang. Tentunya ini tidak terlepas
dari kondisi dan situasi penjajahan pada saat itu. Di mana pada saat itu rakyat
Indonesia dan Lombok khususnya dalam genggaman kaum penjajah Belanda dan Jepang
yang serba brutal. Hak kemanusiaan mereka terkoyak. Kondisi pendidikan masa itu
amatlah terbatas. Terbatas bagi orang atau golongan tertentu. Bahkan pendidikan
bagi wanita adalah sesuatu yang tabu dan dilarang keras. Pesantren dan majlis
taklim diawasi selalu. Bahkan ada yang ditutup karena ditahu kaum penjajah
mengajarkan nasionalisme dan patriotisme. Ekonomi rakyat kala itu morat-marit.
Tidak sedikit di antara mereka yang mati kelaparan. Kondisi sosial mereka saat
itu kacau-balau. Tidak sedikit di antara mereka yang perang saudara dan saling
membunuh, baik secara langsung dengan senjata maupun dengan kekuatan magis, sihir.
Kondisi politik saat itu memang kejam. Tidak sedikit di antara mereka yang
ditangkap kemudian dipejara dan diasingkan. Bahkan banyak yang dibedil di
tempat oleh penjajah. Kondisi yang demikian menjadi inspirasi bagi Maulana
Syeikh, yang kemudian mengilhami nama lembaga yang ia dirikan yaitu NWDI dan
NBDI pada masa prakemerdekaan dan NW pada masa pascakemerdekaan. Lalu apa makna
itu semua?
NWDI sebagaimana yang dipaparkan di
atas merupakan singkatan dari “Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah”. Nahdhah
dalam kamus bahasa Arab terambil dari kata nahadha – yanhadhu – nahdlatan
yang berarti bergerak, pergerakan, bangkit dan kebangkitan. Sedangkan al-Wathan
dalam bahasa Arab berarti bangsa dan tanah air. Jadi Nahdlatul Wathan dapat
dimaknai sebagai pergerakan tanah air atau kebangkitan bangsa yang berbasis
Islam. Karena di samping sebagai lembaga pendidikan, juga sebagai markas
pergerakan kemerdekaan Indonesia, yang mengakomodir para pemuda Sasak unuk
melawan penjajahan melalui pendidikan dan peperangan. Tidak hanya mengakomodir
para pemuda namun juga para pemudi Sasak dalam satu gerakan yang dinamai dengan
NBDI (Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah). Nahdlah sebagaimana paparan di
atas berarti “pergerakan”. Sedangkan al-banat adalah kata plural dari bintun
yang berarti anak perempuan. Jadi missi NBDI adalah menggerakan kaum perempuan
untuk memerangi segala bentuk penjajahan dan penindasan. Hal tersebut dilakukan
untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan yang seringkali dipandang
sebelah mata. Padahal perempuan adalah tiang Negara (‘imadul bilad). Melalui
NBDI, para perempuan Sasak dapat mengenyam pendidikan yang layak dan mereka
saat itu menjadi bagian dari perjuangan melawan penjajah, semacam penyedia
logistik atau konsumsi. Dua nama lembaga ini menjadi dalil kuat bahwa semangat
kebangsaan menjadi sesuatu yang mutlak bagi pendirinya.
Dan tidak patut dilupakan, bahwa
sebelum duoemrio tersebut terbentuk, sebenarnya Maulana Syeikh telah mendirikan
sebuah pesantren yang diberi nama “al-Mujahidin” pada tahun 1934 M.. Lagi-lagi
dengan nama tersebut menjadi sinyal kuat bagaimana ideologi kebangsaan yang ia
miliki dan hendak ia tanamkan kepada putra-putri suku Sasak. Karena kata al-Mujahidin
dalam bahasa Arab berarti para pejuang atau para pahlawan. Dengan nama tersebut
diharapkan santriwan dan santriwatinya memiliki rasa juang yang tinggi untuk
membela bangsa dan tanah airnya, dari segala bentuk penjajahan, ketertindasan
dan keterbelakangan.
Menurut Maulana Syeikh, semangat
kebangsaan tidak hanya dikobarkan saat kondisi tanah air terjajah dan diperangi
musuh. Namun lebih dari itu, yang paling esensi adalah bagaimana semangat
kebangsaan tersebut terus menerus disulut, demi menjaga dan mengisi kemerdekaan,
ragam kegiatan dan aktivitas positif. Oleh karena itu pascakemerdekaan Republik
Indonsia, Maulana Syeikh - dengan semangat kebangsaannya dan rasa cinta
terhadap tanah airnya - mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan (NW) sebagai tindak lanjut dari semangat
kebangsaan yang telah dikobarkan bersama pemuda-pemudi Sasak sebelum Indonesia
merdeka.
Tentunya, eksplorasi kontribusi dan
semagat kebangsaan Nahdlatu Wathan dalam tulisan ini merupakan bagian dari rasa
syukur dan menghargai jasa-jasa pendirinya. Karena ia adalah bagian dari para
pahlawan bangsa ini. Bukankah orang bijak berpetuah – “Bangsa yang besar adalah
bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”?
Semangat kebangsaan Nahdlatul Wathan
dapat ditilik dari ruang lingkup pergerakannya, yaitu pendidikan, sosial dan
dakwah. Ketiga ruang lingkup inilah hal pokok yang digariskan oleh pendirinya.
Sekalipun jika dikaji lebih mendalam, sesungguhnya semangat kebangsaan
Nahdlatul Wathan tidak hanya tercermin dari ketiga bidang tersebut, namun kini telah
menjamah bidang ekonomi dan politik.
Di bidang pendidikan, NW telah mampu
memberikan kontribusi nyata. Di mana lebih dari 1000 madrasah dan pondok
pesantren berada di bawah payung NW. Hal
ini menjadi prestasi yang prestisius yang layak dibanggakan. Dan lebih dari itu
tidak sedikit abiturennya telah menjadi ulama’, ustaz, da’i, pejabat Negara,
pemimpin organisasi, partai politik dan sebagainya. Dalam konteks kekinian NW
telah menjadi primadona di kalangan pondok pesantren. Semangat kebangsaan yang
ditoreh melalui bidang pendidikan telah banyak membuahkan hasil. Ada segudang
prestasi yang telah diraih. Dan yang terkini, NW melalui kiprahnya di bidang
pendidikan telah mampu menunjukkan kemampuannya di bidang teknologi. Di mana
baru-baru ini sejumlah mahasiswanya berhasil mendigitalisasi Hizib Nahdlatul
Wathan dalam versi android. Juga baru-baru ini, NW telah menjalin kerjasama
dengan organisasi NU dan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, yang kemudian
direalisasikan dalam sebuah seminar pendidikan. Dalam seminar tersebut ketiga
organisasi besar tersebut duduk bersama, berdiskusi dan saling berbagi ilmu tentang
pendidikan. Kegiatan yang demikian tentunya mampu memompa semangat kebangsaan
dalam persatuan yang kokoh.
Di bidang sosial, NW telah
membuktikan semangat kebangsaannya dengan banyak mendirikan lembaga-lembaga
sosial semisal panti asuhan, klinik, badan amil zakat dan sebagainya. Juga
melakukan aksi sosial seperti santunan sosial, sunatan massal, cek up
kesehatan gratis, bazar dan lainnya. Demikian pula dalam bidang dakwah
islamiyah, NW telah mampu mendirikan majlis dakwah dan pengajian, baik yang
bertempat kota maupun di desa. Itu semua tidak lain bertujuan agar moral bangsa
selalu terjaga sehingga selalu dapat diaktualisasikan dalam sikap dan perilaku.
Menjaga moral bangsa berarti menjag semangat bangsa.
Di bidang ekonomi, NW telah banyak
mendirikan koperasi dan mini bank dengan bekerjasama dengan bank
nasional dan lokal. Hal tersebut dilakukan dalam rangka melayani segala bentuk
pembayaran mahasiswa yang jumlahnya ribuan dengan praktis dan sistemik.
Pengelolaan yang demikian professional memungkinkan perekonomian tanah air akan
lebih maju. Dan dengan itulah semangat kebangsaan Nahdlatul Wathan tidak
diragukan lagi. Dan masih banyak hal yang menunjukkan semagat kebangsaannya
terhadap negeri tercinta ini.
Demikian, semoga tulisan ini
bermanfaat bagi kita semua dalam menjaga semangat kebangsaan kita. Mengingat dan
menyebut jasa para pejuang kemerdekaan termasuk di dalamnya para ulama’ merupakan
salah satu bentuk kesyukuran atas nikmat kemerdekaan yang telah diperoleh.
Bukankah Allah berfirman di akhir QS. al-Dhuha: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu menyebutnya!”. Wallahu
a’lam bisshawab.
Prosmala Hadisaputra
SPIRITUALITAS MAULID
Perayaan maulid dipandang sebagai
seremonial tradisi keislaman. Dalam sejarah Islam, asal muasal maulid masih
menjadi diskursus tanpa episode. Ada yang mengatakan bahwa perayaan maulid
telah dimulai pada masa dinasti Fathimiyah. Sebagian lagi berpendapat, maulid
untuk pertama kalinya dirayakan pada awal musim perang Salib yang digagas oleh
Shalahuddin al-Ayyubi. Di samping perdebatan dari perspektif sejarah, juga mengenai
hukum perayaannya yang hingga saat ini terus bergulir layaknya bola api, apakah
sunnah atau bida’ah.
Terlepas dari pro-kontra di atas,
sesungguhnya ada banyak nilai yang dapat diambil dalam setiap perayaan maulid
Nabi. Sehingga maulid tidak elok bila hanya diteropong dengan satu atau dua pendekatan,
semisal perspektif sejarah dan hukum syari’at, namun perlu juga diteropong
melalui pendekatan lainnya semisal
sosial, budaya, politik dan pendidikan.
Dalam tulisan ini, penulis hendak
meneropong kegiatan maulid melalui kaca mata pendidikan. Selama ini maulid oleh
sebagian kalangan dinilai sebagai bagian dari perilaku boros. Namun tidakkah
disadari bahwa ada nilai-nilai pendidikan spiritual yang tertancap kuat dalam
perayaan maulid itu sendiri, yang lebih banyak dan lebih masuk akal daripada
alasan sekadar “boros”. Maka perayaan Mulid sebenarnya dihajatkan sebagai salah
satu jalan untuk selalu memperbaharui diri menjadi manusia yang memiliki spiritualitas
tinggi.
Adapun nilai-nilai spiritual
tersebut dapat dilacak melalui rangkaian seremonialnya. Dalam tradisi Sasak,
maulid secara jamak diagendakan dengan sejumlah rangkaian acara, biasanya
meliputi pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, khataman al-Qur’an (dalam bahasa
Sasak biasa disebut namatan), pembacaan al-Barzanji (dalam
tradisi Sasak disebut Serakalan), ceramah agama (pengajian), zikir
(dalam bahasa Sasak disebut rowah) dan penutup do’a.
Pembacaan ayat al-Qur’an merupakan acara
pembuka setiap kegiatan, tidak terkecuali maulid Nabi. Pembacaan al-Qur’an
memiliki implikasi terhadap spiritualitas seorang hamba. Ia dapat menambah
keimanan, melunakkan hati yang keras, menggetarkan jiwa yang sombong,
melumpuhkan angan-angan duniawi, memotivasi jiwa yang rapuh, menghidupkan hati
yang mati dan sebagainya.
Dalam acara-acara maulid, qari’ atau
qari’ah biasanya melantunkan Q.S al-Ahzab ayat 21 (laqad kaana lakum fi
rasuulillaah….). Ayat tersebut menegaskan bahwa Rasulullah merupakan
manusia yang memiliki spirualitas yang tinggi dengan kemuliaan budi pekertinya.
Tidak hanya itu, sepiritualitas juga dapat diraih dengan banyak berzikir
kepada-Nya, baik dalam bentuk ibadah mahdhah (pokok) semisal shalat,
puasa, zakat maupun ibadah ghairu mahdhah semisal zikir setelah shalat, infak,
menyingkirkan duri di jalan dan lain-lain.
Setelah pembacaan al-Qur’an selesai,
biasanya dilangsungkan dengan acara khataman al-Qur’an. Dalam tradisi
Sasak, kegiatan ini disebut namatan Qur’an. Anak-anak yang telah menamatkan
al-Qur’an pada guru ngajinya diuji mentalnya di hadapan orang banyak untuk
membaca al-Qur’an. Kegiatan seperti ini tentu sangat mendidik mental dan
spiritual anak. Anak-anak yang telah namatan biasanya sudah teruji
mentalnya dan lebih percaya diri, sehingga menjadi modal awal untuk terus
membaca al-Qur’an agar spiritualiatasnya berkarakter al-Qur’an.
Setelah acara namatan, dilanjutkan
dengan berzanji (selakaran). Dalam selakaran ini dibaca kitab Maulid
Berzanji. Kitab tersebut banyak menjelaskan sejarah Rasulullah. Sehingga
banyak nilai spiritual yang dapat diambil di antaranya; sikap jujur (shiddiq).
Dalam bahasa Arab jujur disepadankan dengan kata “al-amanah wal ikhlash”.
Jujur merupakan perilaku yang mengimplementasikan sikap amanah dan ikhlas dalam
menjalankan tugasnya sebagai seorang individu sebagaimana yang dicontohkan oleh
Nabi. Sebelum Islam turun, popularitasnya sebagai “bisnisman” yang jujur dan
terpercaya telah tersebar di kalangan suku Quraisy. Popularitas tersebut
distempel dengan sebutan al-Amin (yang amanat).
Diceritakan juga dalam kitab
al-Barzanji sebagai hamba yang sederhana. Kesederhanaannya dapat dilihat
mislanya dari keistiqamahannya dalam berpuasa, perabotan rumahnya yang sangat
sederhana, tempat tidurnya yang terbuat dari pelepah kurma. Hal tersebut tidak
berarti bahwa Rasulullah miskin, melainkan beliau adalah orang yang kaya raya.
Hal tersebut dapat ditilik dari kesuksesannya berniaga. Sehingga ketika
Rasulullah menikahi Siti Khadijah, maharnya pun tidak terbilang sedikit yaitu
200 ekor unta. Jadi, kesederhanan tersebut beliau lakukan untuk memberikan suri
teladan kepada umatnya.
Juga karakternya yang gemar bekerja
keras diungkap dalam al-Barzanji. Seperti yang dimaklumi bersama bahwa
Rasulullah sebelum karirnya melambung tinggi, beliau adalah seorang penggembala
kambing. Walau Beliau keturunan suku yang mulia (Quraisy), baginya harta yang
dihasilkan dari keringat sendiri lebih berkah daripada harta yang diperoleh
tanpa keringat sendiri. Sebab, ketiadaan atau lemahnya karakter kerja keras seseorang,
dapat menjadikan jiwanya dipenuhi hawa nafsu, keinginan-keinginan yang membabi-buta
untuk memperoleh harta, wanita dan jabatan dengan jalan yang tidak wajar, bahkan
tidak halal, sehingga terjadilah praktik korupsi dalam bentuk suap-menyuap,
gratifitasi seks, kolusi, nepotisme, pesugihan, mengemis dan lain sebagainya.
Di samping nilai-nilai spiritual di
atas, masih banyak nilai yang dapat diambil dalam kitab Berzanji. Kemampuan
Sayyid Ja’far – penulis Berzanji – meramu buku sejarah tersebut dalam bentuk
sya’ir, menandakan bahwa ia memiliki talenta dalam kesustraan. Bahasa sya’ir yang
digunakan memiliki nilai-nilai kesustraan yang mampu menyentuh hati sanubari
pembacanya. Huruf akhir kalimat yang dibentuk dengan bunyi huruf yang sama,
membuat bait-bait sya’irnya semakin indah. Kitab Berzanji disuguhkan dengan
sistematik yang mengarahkan pembacanya senantiasa menjeda dengan bacaan
shalawat. Sehingga dapat dikatakan bahwa aktivitas tersebut memiliki efek
terhadap kualitas spiritual pembacanya, karena membaca shalawat berarti
mendekatkan hamba dengan Allah dan dengan rasul-Nya.
Setelah acara pembacaan berzanji
selesai kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama. Dalam ceramah tersebut
banyak diungkap nilai-nilai spiritual yang dimiliki oleh Rasulullah. Sehingga
nilai-nilai spiritualitas pada rangkaian acara sebelumnya menjadi lebih kuat
dan membekas di jiwa.
Setelah itu, dilanjutkan dengan
acara rowah atau zikir. Zikir memiliki kekuatan dalam membentuk
spiritual seseorang. Zikir merupakan komunikasi spiritual antara hamba dan
Tuhannya. Bibir yang senantiasa basah
dengan zikir berimplikasi pada ketenangan hati. Ia ibarat ditergen yang
mampu mensucikan jiwa dari keruhnya pengaruh nafsu duniawi. Hamba yang suci
jiwanya telah dijanjikan oleh Allah sebagai manusia yang beruntung.
Kesempurnaan acara maulid kemudian ditutup dengan do’a. Hal tersebut tentunya
dapat menguatkan secara sempurna nilai-nilai spiritual yang telah diperoleh
dari rangkaian acara sebelumnya. Sebab sebagai yang dimaklumi bersama bahwa
do’a semisal dengan zikir. Do’a merupakan media utama dalam menjaga dan
menguatkan semua spiritualitas yang telah dimiliki oleh seorang hamba. Rasulullah
mengajarkan umatnya doa: “Ya Allah, bantulah kami untuk mengingat-Mu dan
bersyukur kepada-Mu”.
Nilai-nilai spiritul dalam perayaan maulid
di atas tentu akan diperoleh melalui proses yang ikhlas, benar dan khidmat.
Ikhlas berarti bahwa maulid yang dilakukan diniatkan karena Allah. Benar dan
khidmat berarti bahwa kegiatan berzanji harus dilakukan dengan etika, sopan
santun dan bacaan berzanji yang baik dan benar. Sebab, tidak sedikit masyarakat
yang membaca berzanji tidak dibarengi dengan melihat teksnya langsung, sehingga
makhrajul huruf-nya pun menjadi tidak terkontrol dan pelaksanaannya
menjadi tidak khidmat. Wallahu a’lam bisshawab.
Prosmala Hadisaputra
Pendidik di Ponpes Selaparang NW Kediri
Islamic Studies - University of Malaya
Kuala Lumpur-Malaysia
Langganan:
Komentar (Atom)
